Menangis dengan Rp. 100 ribu

Saudaraku yang Semoga Alloh Murahkan kebaikan hatinya.

Perjalan hidup itu hanya Alloh SWT yang paling tahu, ketika kita berencana untuk menikmati liburanpun banyak pelajaran yang sedang Alloh SWT karuniakan kepada kita untuk renungkan betapa apa yang telah dianugerahkan kepada kita adalah milikNya untuk kita syukuri bukan kita kufuri.

29 Desember 2016, pagi jam 08:30, kami berangkat dan diarahkan oleh suatu keinginan menyaksikan kekayaan alam Gunung Halimun Bogor.  Apa yang ada dalam benak kami semua serba indah dan menarik, membahagiakan berada di atas gunung dengan hembusan kabut lembut dingin yang menyusuri seluruh tulang dan seluruh urat syarat, hingga dapat menjadikan unsur dalam badan merasa rilex dan segar.

Perjalanan melewati Parung Panjang menuju Lebak Wangi Bogor Barat, bukanlah perjalanan yang nyaman, badan harus digoyang kencang karena lubang jalanan sangat dalam hingga laju kendaraan berkisar 5 km per jam.  Bukan hanya itu, truk truk pengangkut pasir dan batu menjadi warna berbeda, mengacak isi kepala dengan analisa, “Wajar saja” jalanan cepat hancur karena beban berton-ton membebani ruas jalan ini.

Perjalanan kami sedikit lega dengan jalan cor beton yang agak mulus setelah melewati pertigaan lebak Wangi.  Sepanjang perjalanan kami dihibur oleh pemandangan perkebunan kelapa sawit yang rimbun.  Beberapa kali kami menemukan kelapa sawit diletakkan di pinggir jalan menunggu truk yang mengangkutnya.

Korp LatPur
Jungle Warfare

Perjalanan panjang sekitar 2 jam, akhirnya disambut dengan SELAMAT DATANG di Daerah LATPUR JUNGLE WARFARE – KORPS BRIMOB POLRI – Gunung Halimun.

Jalanan menuju daerah ini tergolong sangat rusak, aktivitas penduduk jarang ada dan sepi sakali.  Kami sesekali ketemu dengan motor anak-anak muda, ada juga beberapa mobil penduduk lokal yang melintas.

Kiri kanan masih hutan yang hampir belum tersentuh oleh tangan-tangan manusia.  Meskipun jalan rusak, kami menikmati kesejukan udara yang berhembus menyegarkan dada.  Berdasarkan informasi dari Pintu Masuk Area disebutkan bahwa di dalam ada perkebunan teh dan ada juga curug / air terjun, yang membuat semangat kami terus melaju perlahan masuk ke ujung yang lebih dalam.

 

 

Saat pertama kali kami melihat perkebunan Teh, kami berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan alam pegunungan yang sangat menakjubkan, sejuknya udara pegunungan membahagiakan kami semua.

 

 

Tak ku duga, ditengah hutan diperkebunan teh ini kami terhenti pada sebuah kampung yang dihuni sekitar 50 KK, dan sepanjang perjalanan kami, hanya inilah satu-satunya kampung yang kami temui.

Ada 1 Mushola, ada 1 warung, bongkahan batu menjadi alat pengeras jalan sehingga pengendara motor maupun mobil harus sangat berhati-hati.  Selepas sholat Ashar, kami mampir di sebuah rumah panggung, dan disuguhi cerita memprihatinkan karena hanya dihuni oleh seorang Ibu bersama cucunya yang masih yatim.

Lebih memprihatinkan lagi, anak perempuan Ibu ini usianya baru 21 tahun sudah menjadi janda dan saat ini bekerja di daerah tangerang.  Kisah pernikahan putri satu-satunya itu sungguh sangat memprihatinkan.

Kami tidak bisa berbuat banyak, mendengar banyak dan berkata banyak.  Semoga saja Keluarga ini diberikan sesuatu oleh Yang Maha Perkasa, karena mereka adalah MilikNya dan Alloh SWT tentu lebih mengerti bagaimana yang terbaik untuk setiap hamba-hambaNya.

Yang kami bisa lakukan adalah terus berusaha bersyukur, atas nikmat dan karunia yang Alloh limpahkan kepada kami, dan bisa sedikit berbuat sesuatu, semoga menjadi pribadi yang bermanfaat.

Dalam berpamitan Ibu itu menangis dan berterima kasih.

admin Mastri

Admin Mas Tri