Macam-macam Wakaf

| Macam Macam Wakaf | Mengenai macam-macam wakaf di dalam Peraturan Pemerintah No.2 Tahun 1977 maupun dalam menjelaskan tidak diatur, di mana dalam peraturan pemerintah tersebut hanya mengatur wakaf sosial (untuk umum) atas tanah milik. Macam-macam wakaf lainnya seperti wakaf keluarga tidak termasuk dalam peraturan pemerintah tersebut. Hal tersebut untuk menghindari kekaburan permasalahan perwakafan.

Macam-macam wakaf menurut fiqih, yaitu sebagai berikut :

 1. Wakaf Ahli (keluarga atau khusus)
Macam-macam wakaf salah satunya adalah wakaf Ahli. Wakaf ahli merupakan wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu seseorang atau lebih dari satu, baik keluarga wakif atau bukan, misalnya mewakafkan buku untuk anaknya yang mampu mempergunakannya, kemudian diteruskan kepada cucu-cucunya. Macam wakaf ini dipandang sah dan yang berhak menikmati harta wakaf adalah mereka yang ditunjuk dalam pernyataan wakaf.
2. Wakaf Umum
Macam-macam wakaf salah satunya wakaf umum. Wakaf umum ialah wakaf yang sejak semula ditujukan untuk kepentingan umum, tidak dikhususkan pada orang-orang tertentu. Wakaf umum ini sejalan juga dengan amalan wakaf yang menyatakan bahwa pahalanya akan terus mengalir sampai wakif itu meninggal dunia. Apabila harta wakaf masih, tetap diambil manfaatnya sehingga wakaf itu dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas dan merupakan sarana untuk menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat baik dalam bidang sosial, pendidikan, kebudayaan, ekonomi serta keagamaan.
Manfaat wakaf semacam ini jauh lebih besar dibandingkan wakaf ahli dan macam wakaf ini nampaknya lebih sesuai dengan tujuan wakaf secara umum. Secara substansinya, wakaf jenis ini merupakan salah satu segi dari cara membelanjakan harta di jalan Allah SWT. Apabila harta wakaf tersebut digunakan untuk pembangunan, baik bidang keagamaan maupun perekonomian, maka manfaatnya sangat terasa untuk kepentingan umum, tidak terbatas untuk keluarga atau kerabat terdekat.

Wakaf Tunai

Wakaf Tunai merupakan wakaf dalam bentuk uang, dimana uang menjadi harta benda wakaf atau aset berupa nilai uang yang ditunaikan tersebut.

Wakaf uang lebih memungkinkan bagi Yayasan Pondok Karya Madani untuk mengalokasikan manfaat wakaf sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat dalam periode tertentu.  Salah satu Pemanfaatan Dana ini adalah untuk membantu biaya pendidikan yang disalurkan langsung kesekolah.  Benar bahwa Pemerintah telah meluncurkan program Kartu Indonesia Pintar, atau program pendidikan 9 tahun.  Berdasarkan pengalaman lapangan Dana Bantuan kami masih bermanfaat untuk membantu biaya pendidikan terutama anak-anak yatim yang bersekolah di swasta.

Wakaf tunai diharapkan dapat menjadi sarana rekonstruksi sosial dan pembangunan, dimana mayoritas penduduk dapat ikut berpartisipasi. Untuk mewujudkan partisipasi tersebut, maka berbagai upaya pengenalan tentang arti penting wakaf tunai sebagai sarana menstransfer tabungan para dermawan (orang kaya) kepada enterpreneurs (usahawan) dan anggota masyarakat dalam mendanai berbagai aktifitas keumatan perlu dilakukan secara intensif. (Mannan, 1999).

Menurut Syafi’i Antonio (2002), sedikitnya terdapat empat manfaat utama dari wakaf tunai:

  1. Wakaf uang jumlahnya bisa bervariasi sehingga yang memiliki dana terbatas sudah dapat memulai memberikan dana wakafnya tanpa harus menunggu menjadi golongan menengah ke atas terlebih dahulu.
  2. Melalui wakaf uang, aset-aset wakaf yang berupa tanah-tanah kosong atau gedung/bangunan yang belum berfungsi dapat diberdayagunakan.
  3. Dana wakaf tunai dapat untuk membantu sebagian lembaga-lembaga Islam yang cash flownya terkadang ada, terkadang tidak ada, dan adakalanya menggaji pegawainya dengan alakadarnya.
  4. Umat Islam akan dapat lebih mandiri dalam mengembangkan syiar dan dakwah Islamiyah, Dalam cacatan sejarah Islam, wakaf tunai sudah dipraktekkan sejak awal abad kedua hijriah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Imam Az Zuhri salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin Al hadist memfatwakan, bahwa dianjurkannya wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana da’wah, sosial dan pendidikan umat Islam. Caranya adalah dengan menjadikan uang sebagai modal usaha kemudian menyalnrkan keuntungannya sebagai wakaf. (Antonio: 2002).

Di Indonesia wakaf tunai secara kelembagaan belum banyak diperkenalkan, namun jika dicari kesamaan berpijak dalam mengamalkan bentuk-bentuk wakaf oleh anggota masyarakat, secara kultural dapat ditemukan pada bentuk wakaf gotong royong (Ali, 1988:96). Cara yang ditempuh adalah dengan membentuk panitia untuk mengumpulkan dana, setelah dana terkumpul anggota masyarakat bergotong royong menyumbangkan tenaga untuk pembangunan wakaf yang dimaksud. Misalnya, membangun masjid, rumah sakit, sekolahan, panti asuhan dan sebagainya.

Dalam wakaf gotong royong ini harta yang diwakafkan itu terlihat pula pada sumbangan bahan material atau lebih praktis berupa uang tunai. Uang tunai inilah yang akan menghantarkan suksesnya pembangunan, kemudian dengan cara membersihkan batas-batas bagi ruangan-ruangan bangunan tersebut, untuk dijadikan wakaf oleh orang yang mewakafkan sejumlah uangnya. Dari cara bergotong royong seperti keterangan di atas menurut pengurus pundi amalku, budaya gotong royong masyarakat Indonesia telah mewamai perwakafan.